Author: Ida Ayu Fatmawati Nur Halimah

Orang Sukses Selalu Punya 1000 Solusi untuk 1 Masalah

Orang Sukses Selalu Punya 1000 Solusi untuk 1 Masalah

Apakah diantara list ini termasuk alasanmu juga untuk tidak memulai bisnis paytren sejak dini?

Gaptek
Sibuk ngantor
Sibuk ngurus anak
Sibuk kuliah
Sibuk dagang
Gak mau ribet
Gak ada modal

Ini jawaban kami:
Gaptek mu bisa diobati dengan belajar dan usaha.

Sibuk ngantor bisa dikerjakan online. Tentunya dengan trik jitu dari mentor2 yang sudah pengalaman dan tau caranya. So, tinggal belajar aja. Ingat yaaa. Gak selamanya kan kamu mau jadi karyawan kantoran? Digaji terus. Pikirkan masa depan saat kamu tua dan punya keluarga besar. Pasti kamu juga mau kan ada uang ygv terus ngalir meski duduk manis dan tiduran?

Sibuk ngurus anak. Justru bisnis ini cocok banget buat orang rumahan. Biaya murah banget untuk sebuah bisnis serius. Dijalankan santai secara online dari rumah. Sambil masak, ngemong anak. Asal mau belajar dan usaha. Emang ibu2 mau nanggung resiko kalailu suatu saat (na’udzubillahi min dzalik) suami kecelakaan dan tidak bisa bekerja lagi, suami dipecat, suami nikah lagi. Mau dapat duit dari mana? So, jadilah wanita mandiri.

Sibuk kuliah. Ini bisnis enak banget lo sayy. Gak pake tupo2, gak pake stok barang, gak pake expired, gak pake ketinggalan trend. Kita cuma cerita keunggulan paytren, manfaat, dan sisi positif lainnya. Kalau ada yg mau beli ya tinggal layani, hadirkan, tunjukkan modelnya melalui smartphone kamu doang. Enak kan? Masih muda sudah kece badai. Keren dong,,,

Sibuk dagang. Hemz, say,,, perlu tarik nafas nich. Sekarang gini aja. Pikir ya! Now jaman udah beda. Serba digital. Gak heran yaa banyak pasar online dibuka. Banyak yg nyaman dengan dunia jual beli online. Sementara pasar offlinenya makin surut. Makanan saja, pake online! Kebayang kan, bagaimana dahsyatnya online!

Ini silakan bandingkan soal keuangannya yaaa:
Modal sekali seumur hidup cuma 350.000. Bandingkan dengan modal daganganmu sekarang. Berapa harga gerobak? Biaya isinya? Biaya produksinya? Jauh banget kan?

Apalagi yang sewa toko, kontrak, biayanya berapa? Belum tentu laris manis. Sementara paytren, pasti dibutuhkan semua orang karena layanan paten, melayani transaksi semua org tanpa dipaksa. Tinggal kenalkan aja dengan aplikasinya, tunjukin. Kasi tau manfaat dan keunggulannya.

Kalau paytren cuma sekali bayar 350.000. Kerjanya nyantai. Bisa online atau offline. Tinggal belajar dan usaha.

Gak mau ribet. Siapa bilang ribet? Kamunya aja berpikir ribet. Kenali dulu, pahami, baru bilang ribet yaaa. Ini bisnis simple dan mudah banget dijalankan.

Gak ada modal? Kamu bisa pinjam, cari! Sukses butuh pengorbanan, betul?

Sponsor kamu dan tim ahlinya hanya memberikan saran, masukan dan tips, melengkapi fasilitas yang dibutuhkan, dan membimbing.

Kesuksesan? Semua di tangan kamu. Mau merubah hidup ya harus punya tekad dan berani nekat. Punya keinginan dan kemauan, usaha untuk belajar, serta pengorbanan.

Bentuklah kesuksesanmu sedini mungkin bersama kami di Paytren.

Salam sukses berjamaah

KEHIDUPAN SESEORANG BERGANTUNG PADA BAGAIMANA CARA BERPIKIR

KEHIDUPAN SESEORANG BERGANTUNG PADA BAGAIMANA CARA BERPIKIR

POSITIVE dan NEGATIVE THINKING

Bro, aku lagi butuh 500 ribu, pentingggg bangetttt, darurat. Please, tolong pinjami aku dulu ya..”. Sahabatnya membalas, “Tunggu barang setengah jam ya broo, secepatnya nanti aku transfer”

Sudah lewat dari 1/2 jam, satu jam, dua jam, tapi sahabatnya, saudara’nya tidak juga memberi kabar. Ketika di telepon pun ternyata HP nya tidak aktif.

Ia pun mengirim SMS, “Selama ini aku tidak pernah mengecewakanmu brooo.Tapi kenapa sekarang engkau lari dariku?! Apa salahku?!”

Setelah dibaca, sahabatnya, saudaranya menelepon kembali dan berkata, “Ya Allah, semoga Allah mengampunimu, Aku tidak bermaksud mematikan HP untuk lari darimu. Aku mematikan HP karena aku sedang menjual HPku untuk membantu kebutuhanmu. Lalu, dari sisa penjualan, aku belikan HP second yang murah agar bisa menghubungimu”

Sahabat’ku..
Saudara’ku..
Manusia hari ini suka berprasangka karena lingkungan yang suka mempengaruhi

Ada sangkaan baik dan ada sangkaan buruk
Orang yang bersantai disangka malas
Orang yang pakai baju baru disangka pamer
Orang yang pakai baju buruk disangka tidak hormat
Orang makan banyak disangka rakus
Orang makan sedikit disangka “diet” ketat
Orang baik disangka buruk
Orang buruk disangka baik
Orang tersenyum disangka mengejek
Orang bermuka masam disangka menyindir
Orang mengkritik disangka tidak senang
Orang diam disangka menyendiri
Orang menawan disangka pakai susuk
Orang sering ikut kajian/ta’lim disangka kelompok aliran macam-macam

Siapa tahu..
Yang diam itu karena berdoa atau bersujud kepada TUHAN atau ALLAH..

Siapa tahu..
Yang tersenyum itu karena beramal..

Siapa tahu..
Yang bermuka masam itu karena mengenang dosa-dosanya..

Siapa tahu..
Yang menawan itu karena bersih hati dan pikirannya..

Siapa tahu..
Yang ceria itu karena cerdas pikirannya & senantiasa mengingat TUHAN..ALLAH….

Siapa tahu..
Yang sering ikut keagamaan itu haus ilmu

Kawan, mari hilangkan pikiran negatif, tanamkan pikiran positif. Agar hati bersih, pikiran tenang, dan hidup lebih sehat.

Salam sukses berjamaah????????

#paytrener
#thinkpositive

Hidup antara mengumpulkan koin dan poin

Hidup antara mengumpulkan koin dan poin

Dalam menjalani hidup, sebenarnya kita hanya berkisar antara mengumpulkan koin dan memperbanyak poin. Maksud koin dalam hidup di sini sama halnya dengan koin di permainan Super Mario. Dalam game Super Mario, Mario sebagai petualang yang menjalani berbagai rute. Dia harus mencari koin untuk memperbanyak poin. Koin di situ sebagai sarana untuk mendapatkan poin. Oleh sebab itu, ketika koin didapatkan, koin tersebut hancur lalu berubah menjadi poin yang menjadi bekal di sepanjang perjalanannya menuju titik akhir. Jadi, Super Mario tidak membawa koin utnuk menuju ke finish, dia membawa poin.

Permainan Super Mario tersebut, coba kita kontekskan ke dalam kehidupan kita. Kita berada di dunia ini senantiasa menjalani waktu hingga titik akhir hembusan nafas kita. Tentu dalam perjalanan kehidupan kita, ada koin dan poin, sebagaimana dalam game Super Mario. Konyolnya, ada sebagian orang yang tidak mengerti tentang kedua hal tersebut, bahwa koin hanya sebagai sarana untuk mendapatkan poin. Namun, bagi mereka koin tersebut tidak djadikan sarana untuk memperbanyak poin, mereka lebih suka mengumpulkan koin saja.

Dalam konteks kita, koin hanya sebagai nilai formalitas dalam kehidupan, sementara poin adalah nilai kualitas di sisi Allah. Harta merupakan koin yang menjadi sarana untuk mendapatkan poin. Poin dari harta adalah menggunakannya untuk kepentingan dan kebaikan di jalan Allah. Semisal harta digunakan untuk nafkah istri dan keluarga, disumbangkan untuk masjid, musollah, orang fakir dan miskin, dan lembaga pendidikan atau pesantren, dan seterusnya.

Jika seseorang dilihat dari antara mengumpulkan koin dan memperbanyak poin, maka ada seseorang yang sibuk mengumpulkan koin saja tanpa memperbanyak poin. Ada yang mengumpulkan koin yang tujuannya untuk memperbanyak poin. Ada yang memperbanyak poin tanpa menghiraukan koin.

Seseorang yang sibuk mengumpulkan koin saja tanpa memperbanyak poin

Seseorang yang hidupnya sibuk dengan mengumpulkan harta tanpa menggunakannya untuk kepentingan dan kebaikan di jalan Allah, berarti dia hanya mendapatkan koin saja tanpa akan menikmati poin kelak. Orang yang seperti ini biasanya, semisal dalam dunia bisnis, sering melakukan penipuan. Tujuannya untuk mendapatkan hasil yang banyak dan takut terjadi kerugian.

Semisal juga dalam dunia pendidikan, jika seorang guru hanya memikirkan koin, dia tidak mau rajin dan serius mengajar jika tidak mendapatkan gaji yang besar. Jadi, tujuan dia menjadi guru hanya untuk mendapatkan koin yaitu uang, tidak bertujuan untuk mendapatkan poin yaitu nilai pengabdian pada ilmu yang pasti mendapat jaminan dari Allah.

Begitu juga yang marak terjadi dalam dunia politik dan jabatan pemerintahan. Mereka yang doyan korupsi karena mereka mementingkan koin. Dalam hati dan pikirannya sama sekali tidak ada impian untuk mendapatkan poin dari jabatannya. Andai kata mereka lebih memikirkan poin, tentu tidak akan melakukan korupsi.

Seseorang mengumpulkan koin bertujuan untuk memperbanyak poin

 Ada seseorang yang mengumpulkan koin, tapi tujuannya untuk memperbanyak poin. Semisal dia bekerja keras atau memiliki usaha bisnis yang besar, tapi hasil dari kerja atau bisnisnya digunakan untuk kepentingan dan kebaikan di jalan Allah. Orang yang seperti ini, dalam kerja atau bisnisnya, tidak akan melakukan penipuan untuk mendapatkan keuntungan besar atau menghindar dari kerugian yang besar pula.

Mengumpulkan sekian koin untuk memperbanyak poin merupakan sikap yang sangat mulia. Allah tidak pernah melarang kita memiliki pekerjaan yang hasilnya melimpah atau memiliki usaha yang besar. Allah hanya melarang kita melakukan penipuan, melakukan penyalahguaan harta, dan merampas atau mencuri harta orang lain.

Seseorang Yang Memperbanyak Poin Tanpa Menghiraukan Koin

Ada seseorang yang hidupnya lebih mendahulukan poin, sementara koin baginya sama sekali tidak bernilai apa-apa atau tidak menarik. Orang seperti ini selalu ingin banyak beramal tanpa melalui harta. Dia melakukan banyak kebaikan dengan bakatnya, kemampuannya, atau ilmunya. Meskipun dia bekerja medapatkan uang, hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam pikiran dan hatinya tidak pernah terbesit ingin memiliki harta yang banyak, mobil mewah, rumah besar dan megah, dan lain-lain.

Semisal dia menjadi bisnismen sukses, ketika dia menjalani bisnisnya, dia tidak pernah melakukan penipuan meski dia tahu akan mengalami kerugian. Ketika mendapatkan hasil yang melimpah, dalam pikirannya bagaimana uangnya bisa menjadi amal jariyah.

Semisal juga, jika dia menjadi seorang guru atau dosen, dia hanya berniat berbagi ilmu, berusaha mencerdaskan anak didiknya, dan mengembangkan lembaga pendidikan yang menjadi amanahnya. Masalah gaji, jika ada diterima, jika tidak ada bersabar serta meyakini bahwa Allah yang akan menjamin hidupnya.

Begitu juga, ketika orang tersebut menjadi pejabat pemenrintah, dia hanya ingin menjalani amanahnya sebagai pejabat dan akan bertanggung jawab penuh dengan apa yang menjadi tugasnya. Dia tidak pernah merasa bangga dengan jabatannya. Dia sama sekali tidak begitu menikmati dengan fasilitas yang disediakan oleh Negara. Dia selalu meyakini bahwa semua ini hanya sekedar titipan, bahkan dia beranggapan bahwa ini ujian yang harus dijalani dengan hati-hati.

(Dikutip dari: Buku NasiHati jilid I, Oleh Muhammad Taufiq Maulana)